Di Indonesia terjadi Pemilu atau Pemilihan Umum saat akan diadakannya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia. Janji pemilu di Indonesia secara hukum diatur oleh undang undang. Dalam negara yang menganut Presidential, seperti Indonesia, janji sang kontestant wajib bisa diimplementasikan. Janji haruslah jelas, konkrit dan bisa dimengerti oleh masyarakat luas. Sehingga Dalam hal ini rakyat, dapat mengukur keberhasilan ataupun kegagalan dari sang pemimpin.
Beberapa tahun belakangan ini, ketidakjelasan janji kampanye membuat bingung masyarakat untuk memilih. Di bawah ini biasanya tanggapan dari pemilih terhadap pemilu:
1.Golput
Biasanya disebut juga golongan putih. Golput merupakan pemilih yang sudah terdaftar dan mengetahui tentang pemilu, namun tidak memberikan suara atau tidak mengikuti pemilu.
2.Golongan Pencari Uang Tunai
Golongan ini dikategorikan sebagai golongan pemilih yang telah mengerti tentang pemilu, namun mengharapkan imbalan. Biasanya, terdapat suatu tim dari parpol yang memberikan sejumlah uang atau souvenir, brosur, gambar dan lain-lain saat kampanye supaya banyak masyarakat memilih parpol tersebut.
3.Bimbang, bingung, lihat situasi
Ketiga faktor tersebut dapat terjadi jika pemilih memang benar-benar tidak mengenal pemilu atau belum memastikan mana parpol yang akan ia pilih.
4.Pasti
Faktor ini ditunjukkan kepada pemilih yang benar-benar merasa sangat yakin dengan pilihannya itu untuk menentukan mana pemimpin yang terbaik menurutnya.
Untuk menjadi pemenang dari pemilu tersebut, biasanya parpol selalu memberitahukan visi dan misi kepada rakyat. Namun kenyataannya, visi dan misi tersebut kadang terlupakan oleh pemimpin. Jika visi dan misi tersebut kurang dicapai oleh pemimpin, biasanya rakyat selalu kecewa, karena dianggap pemimpin gagal dalam tugasnya. Jadi intinya, rakyat ingin sekali mempunyai pemimpin yang benar-benar membangun negara Indonesia secara baik dan berkembang lagi serta semata-mata tidak hanya obral janji saja.
Nama saya Marianna Handayani dan sering dipanggil Nana. Saya lahir di (RSPAD) Jakarta, 17 Maret 1992. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Saya tinggal bersama kedua orang tua, kakak, nenek dan kakek. Dari kecil saya hobi bernyanyi. Oleh karena itu, saat saya duduk di kelas 3 SD, orang tua saya memberi saya izin untuk les vokal. Saya pun rajin ikut les tersebut dua kali dalam seminggu. Saat ada lomba pun saya ikut di berbagai tempat dan mendapatkan bermacam-macam penghargaan. Sayangnya, itu hanya terjadi dalam dua tahun, karena saat kelas 6 SD, saya mulai sibuk ikut les untuk ujian masuk ke SMP Negeri. Meskipun sudah tidak ikut les vokal lagi, saya tetap hobi menyanyi.
Waktu SMP, saya mengikuti lomba nasyid dan vocal group dan saat SMA saya mengikuti ekstrakurikuler paduan suara. Dari berbagai hal tersebut, saya memiliki banyak sekali pengalaman. Saat saya lulus SMA dan ingin masuk ke perguruan tinggi, saya gagal tes masuk PTN, awalnya saya sedih dan ingin kerja setahun lalu baru ikut tes PTN lagi. Karena ada alasan sesuatu, akhirnya saya mendaftarkan diri ke Universitas Gunadarma jurusan S1 Akuntansi. Memang agak menyimpang saya mengambil jurusan tersebut karena saat SMA saya adalah jurusan IPA. Tetapi dari awal saya memang menyukai pelajaran yang banyak perhitungannya seperti matematika dibanding teori yang menjadi kelemahan saya saat belajar.
Pertama saya masuk kuliah, saya pun agak bingung dengan materi yang diberikan oleh dosen karena banyak sekali mata kuliah IPS. Tetapi saya belajar sedikit-sedikit dan akhirnya di semester awal pun sampai sekarang IPK saya diatas 3. Karena di Gunadarma banyak sekali praktek, saya pun berkeinginan seperti kakak-kakak kelas menjadi aslab (asisten laboratorium) sesuai jurusan. Dari laboratorium yang sesuai jurusan saya dan mata kuliah yang saya senangi, akhirnya saya mendaftarkan diri di Lab. Manajemen Dasar yang menyangkut mata kuliah Matematika Ekonomi dan Statistika. Saat saya lulus dalam syarat-syarat administrasinya, saya beserta 71 orang diberikan tes selanjutnya untuk membuat makalah dengan materi yang diberikan dari Lab. tersebut sekitar 4 hari. Saat tes tutorial dan wawancara dengan kakak kelas, awalnya saya merasa kurang percaya diri karenabanyak sekali saingan dan menurut saya mereka juga mempunyai potensi yang tinggi. Dan saat saya dipanggil untuk tes, saya pun bersikap tenang dan yakin pasti saya bisa. Setelah menunggu sekitar dua hari, saya mendapatkan sms bahwa saya lulus untuk tes berikutnya. Saya merasa sangat senang sekali dan saya tetap belajar supaya bisa lulus sampai tes terakhir. Setelah mengikuti 4 kali tes, akhirnya saya bersama dua teman sekelas lulus menjadi aslab. Perasaan saya pun sangat senang dan tidak menyangka bahwa saya bisa lulus. Sesudah menjadi aslab, saya bisa mengenal lagi lebih banyak teman mulai dari kampus depok dan kampus kalimalang. Ternyata saat rapat tentang membuat jadwal praktek dan lain-lain tidak segampang yang saya kira. Saya pun merasa pusing dan capek awalnya tetapi harus tetap dijalani. Meskipun saya sudah menjadi aslab, saya tetap tidak lupa dengan kuliah dan tugas yang harus dikerjakan.
Dari pengalaman itu pun tidak cukup untuk bekal saya saat lulus kuliah nanti. Masih banyak hal yang harus saya pelajari dan banyak sekali saingan saya diluar sana. Oleh karena itu, saya harus belajar semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang saya inginkan. Dari membaca buku-buku, membaca berita lewat internet dan sumber-sumber lainnya yang menyangkut tentang akuntan. Meskipun saya tidak terlalu suka membaca, saya wajib belajar dari sumber yang telah ada supaya saya bisa mencapai hal yang saya inginkan, yaitu menjadi seorang akuntan.
Di sekolah terdapat bermacam-macam pelajaran. Ada yang pelajaran tentang teori maupun hitung-hitungan. Tetapi, kebanyakan anak sekolah maupun mahasiswa/I kurang berminat terhadap hitung-hitungan terutama “Matematika”. Mereka bilang pelajaran tersebut susah, pusing karena banyak sekali hitung-hitungannya. Sebenarnya, semua pelajaran itu mudah jika kita menyukai dan niat pada pelajaran tersebut dengan senang hati. Selain itu ada factor lainnya, misalnya murid yang menyukai cara guru atau dosen yang mengajar pelajaran tersebut. Jika salah satu atau kedua factor tersebut, maka kita tidak akan kesulitan terhadap pelajaran itu.
Semenjak kecil, saya lebih suka menghitung disbanding membaca buku atau menulis. Karena menurut saya, itu tidak simpel dan bertele-tele. Saya lebih suka dengan kepastian atau pelajaran yang sudah terbukti oleh suatu pengamatan. Mungkin saya sendiri terkadang bingung terhadap beberapa pelajaran yang ada di matematika kadang tidak real, bahwa pelajaran tersebut dipelajari untuk mencari apa dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi karena saya memiliki dua factor diatas, maka saya tidak terlalu kesulitan terhadap pelajaran tersebut. Jika ada pelajaran tentang teori saya pun merasa sedikit kesulitan. Karena memang hal itu suatu keharusan, maka saya membaca dan mempelajarinya agar nilai saya bisa bagus terhadap pelajaran tersebut.